Titacyber's Blog

akuntansi keprilakuan orang jepang

Posted on: Desember 23, 2008

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah
Ketika industri China mengejar mulai tahun 1990an, pihak Jepang tidak terlalu terkehut karena, tempaan manusia Jepang sudah lebih dari dua abad dalam hiyungan sejarah dan budayanya. Jadian pacuan antara Jepang dengan negara-negara tetangganya bukan baru-baru ini saja. Jepang sudah cukup penuh tempaan oleh para oleh para pemimpin mereka dan lingkungan alam Jepang yang tidak terlalu bersahabat. Sampai kinipun tidak kategori produk bermutu Jepang terhitung ‘higher end’ dibandingkan buatan China, Korea dan Negara-negara lainnya dan setiap kali membangun mutu yang lebih tinggi meskipun nilai / harganya agak lebih tinggi.
Sebagai sesama bangsa asia, perlu kita setiap awal triwulan pertama tahun baru mendiskusikan dan mencermati kembali langkah-langkah yang yang penuh halangan seperti era memasuki restorasi meiji. Perang dunia pertama dan kedua menjelang plaza accord 1975 dan krisis 1990an dengan tekad membuahkan hasil setelah diteladani para pemimpin menggugat diri untuk tidak terjebak kembali dalam kemunduran tetapi bertekad terus mendayung maju.
I.2. Perumusan Masalah
Didalam upaya mengidentifikasikan masalah penulis mencoba menghubungkan masalah-masalah yang ada kaitannya dengan sikap dan sifat manusia Jepang sebagai pelaku ekonomi, sebagai berikut :
1. Bagaimanakah sikap manusia Jepang sebagai pelaku ekonomi?
2. Bagaimanakah dampak perekonomian nagara Jepang yang ditimbulkan oleh manusia Jepang?
I.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Meneliti mengenai sikap dan sifat manusia Jepang terhadap pelaku ekonomi
2. Mencari pengaruh ekonomi di negara Jepang terhadap sikap dan sifat manusianya.

Manfaat yang di dapat dari penulisan makalah ini adalah :

1. Mengetahui sikap dan sifat manusia Jepang sebagai pelaku ekonomi.
2. Mengetahui perkembangan ekonomi di negara Jepang.
3. Menambah pengetahuan untuk menghadapi perkembangan ekonomi.
4. Dapat memotivasi negara lain agar perekonomian di negaranya maju seperti negara Jepang.

I.4. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambar yang terarah dan sebelum memasuki inti pokok
permasalahan mengenai sikap dan sifat manusia Jepang sebagai pelaku ekonomi, maka penulis menyajikan / menguraikan sekilas bab perbab. Uraian penulisan makalah ini dalam 5 bab dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, seerta sistematika penulisannya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Dalam bab ini menguraikan tinjauan pustaka yang dipergunakan sebagai pembahasan tentang sikap dan sifat manusia Jepang sebagai Pelaku ekonomi yang meliputi teori-teori yang berhubungan dengan topik makalah, penelitian terdahulu yang relevan, definisi variabel operasional.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Dalam bab ini menguraikan objek, lokasi dan waktu penelitian, populasi, sampel, metode pengumpulan data, teknik analisis data, serta kerangka penelitian.

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Dalam bab ini menguraikan deskripsi obyek penelitian, hasil penelitian, serta analisis dan pembahasan hasil penelitian.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam bab ini menguraikan mengenai menarik kesimpulan dari pembahasan yang di analisisi dan interprestasi yang dibuat dari bab sebelumnya, serta akhirnya mengemukakan saran-saran yang kiranya perlu diperhatikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Teori-teori yang berhubungan dengan Topik Makalah
Restorasi Meiji atau dikenal juga dengan sebutan meiji Ishin, revolusi, atau pembaruan adalah rangakaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir zaman Edo dan awal Zaman Meiji. Restorasi ini merupakan akibat langsung dari dibukanya Jepang kepada kedatangan kapal dari dunia Barat yang dipimpin oleh perwira angkatan laut asal AS, Matthew Perry.
Pembentukan Aliansi Sat-cho, yaitu antara Saigo Takamori, pemimpin Satsuma, dengan Kido Takayoshi, pemimpin Chosu, adalah titik awal dari Restorasi Meiji. aliansi ini dicetuskan oleh Sakamoto Ryoma, dengan tujuan melawan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan pada kaisar.
Keshogunan Tokugawa resmi berakhir pada tanggal 9 November 1867, ketika Shogun Tokugawa ke-15, Tokugawa Yoshinobu “memberikan kekuasaan ke kaisar” dan 10 hari kemudian mundur dari jabatannya. Titik ini adalah awal “Restorasi” kekuasaan imperal. Walau begitu, Yoshinobu masih tetap memiliki kekuasaan yang signifikan.
Kemudian pada Januari 1868, dimilailah perang Boshin (Perang Tahun Naga), yang diawali pertempuran Toba Fushimi, dimana tentara yang dipimipin Chosu dan Satsuma mengalahkan tentara mantan Shogun, dan membuat kaisar mencopot seluruh kekuasaan yang dimiliki Yoshinobu. Sejumlah anggota keshogunan melarikan diri ke Hokkaido da mencoba membuat negara baru, Republik Ezo, tapi usaha ini digaglkan pada penyerbuan Hakkodate, Hokkaido. Kekalahan tentara mantan Shogun adalah akhir dari Restorasi Meiji; dimana semua musuh kaisar berhasil dihancurkan.

II. 2. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Salah seorang pemakalah adalah Mr. Mizuno Toshio (Anggota DPRD Shizuoka Jepang), menginformasikan beberapa hal antara lain masalah shoko koreika, masalah emansipasi pria wanitadan damoaknya terhadap regenerasi, masalah penciutan beberapa daerah di Jepang (merger), masalah budaya tradisional (dalam hal ini judo) dan filsafatnya, dan nilai sebuah kepercayaan bago orang Jepang. Intisarinya sebagai berikut:
Masalah shoko koreika adalah fakta yang menunjukan bahwa jumlah anak-anak di Jepang semakin berkurang, sedangkan orang-orang yang lanjut usia (manula) semakin bertambah. Hal ini disebabkan kaum hawa di Jepang semakin majudan mampu menduduki jabatan penting dimasyarakat. Akibatnya banyak diantara mereka yang tidak mau melahrkan anak lagi. Jumlah perempuan yang melahirkan anak kemudian mereka membesarkannya di Jepang pada tahun 2003 rata-rata hanya 1,9 orang. Artinya, setiap perempuan hanya melahirkan anaknya 1 s.d 2 orang

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III. 1. Objek, Lokasi, dan Waktu Penelitian
Objek penelitian ini adalah mengenai sikap dan sifat manusia Jepang sebagai pelaku ekonomi. Lokasinya terjadinya dinegara Jepang. Waktu penelitiannya adalah tahun 2007.
III. 2. Populasi, Sampel, dan Sumber Data
III.2.1. Populasi merupakan keseluruhan obyek yang diteliti. Dan yang menjadi populasi dalam penyusunan makalah adalah melalui internet.
III.2.2. Sampel merupakan data yang mewakili obyek yang diteliti, dan yang menjadi sampel dalam dalam makalah ini adalah penduduk Jepang.
III.2.3. Sumber data merupakan informasi pusat mengenai data penelitian, dan yang menjadi sumber data dalam makalah ini yaitu melalui internet.

III. 3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data pada makalah ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif, karena makalah membahas secara kata per kata dan kalimat per kalimat.

BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN

IV. 1. Deskripsi Obyek Penelitian
Sejarah modern industri Jepang sejak Restorasi Meiji tahun 1867. Era ini mengakhiri periode panjang isolasi dari dunai luar sejalan dengan awal industrialisasi yang diciptakan masyarakat barat. Bangsa Jepang bangun dari keterbelakangan sebelum era Meiji, tapi melaui proses yang keras dalam kebijakan menanamkan jiwa disiplin dan sikap hidup tidak mudah menyerah pada hambatan ketertutupan bangsa sebagai kelemahan dalam interaksi dengan dunai luarnya. Pergumulan bangsa Jepang untuk memodernisasi yang terdahului oleh hampir tiga ratus tahun masa-masa kekacauan sosial, ekonomi, dan politik.
Proses industrialisasi eranya Meiji dengan industri besi baja, perkapalan dari baja (steel-hulled ship), peralatan listrik, peralatan mesin, mesin pertenunan dan pemintalan. Setelah itu melaju kearah produk-produk seperti kendaraan bermotor, arloji, kamera, radio, komputer, semi konduktor dsb.
Berkembangnya pemikiran pemasaran modern Jepang terjadi setelah perang dunia kedua tahun 1950an. Masa itu pemerintah Jepang menciptakan berbagai kebijakan yang diarahkan pada pemulihan ekonomi dengan memberi berbagai intensif, mulai dari pemulihan industri yang hancur dengan fasilitas kredit lunak dari dunia perbankan, pajak dan mendorong bangsa Jepang untuk tidak apatis setelah kekalahan perang. Salah satu hasil dari kebijakan ekonominya adalah munculnya (revival) masyarakat konsumsi massal (mass consumption society).
Perusahaan Jepang memperoleh dan mendayagunakan dari dunai barat sejumlah pengetahuan produk: teknologi produk dan pengetahuan pemasaran terutama pasca perang dunia kedua. Pada landasan ini, banyak perusahaan Jepang menambah program “kaizen” atau manajemen mutu dan biaya yang memungkinkan merekamencapai pangsa pasar yang sangat besar dalam nisnis internasional dalam bidang-bidang elektronika rumah tangga, audio, televisi, video tape recorder, mesin fotokopi dan facsimile, dan tetntunya industri otomotif dan sebagainya.
Merekapun menyadari bahwa memasuki era globalisasi persaingan internasional semakin tajam. Inilah salah satu alasan mengapa banyak perusahaan Jepang menargetkan pasaran global harus mengintroduksi produk baru yang memiliki orisinalitasdan mutu yang tinggi (originality dan excellence).
Belakangan ini terdapat anggapan bahwa pertumbuhsn produktivitas berasal dari perubahan dan sukses didasarkan pada manajemen perubahan secara efektif (effective management of change). Perubahan teknologi yang demikian cepatnya, makin pentingnya perangkat lunak (software), globalisasi pasar, dan pergeseran nilai-nilai sosial akan mempengaruhi konsep manajemen dan produktivitas.
IV.2. Hasil Penelitian
Masyarakat Jepang merupakan sebuah komunitas orang-orang yang lebih mengedepankan kepercayaan tanpa banyak bertanya atau curiga terhadap orang lain. Sebagai ikustrasi diberikan contoh sebagai berikut. Orang Jepang dididik pada sebuah ajaran yang mengedepankan bahwa mencurigakan orang lain itu tidak baik. Tidak boleh berprasangka buruksebelum seseorang itu terbukti bersalah.
Dalam bidang bisnis, apabila si pembeli merasa puas denagn menampakkan senyum misalnya, maka dalam diri para pebisnis itu akan lahir kepercayaan diri dan mereka akan mereasa yakin bahwakualitas barang dan harganya menduduki posisis yang berimbang. Artinay mahalnya harga diimbangi dengan kiualitas yang memadai. Dengan demikian secara alami, orang Jepang akan menjual barang-barang itu dengan percaya diri. Orang Jepang tidak akan menjual barang yang cacat, atau yang berkualitas jelek, apalagi mempunyai pikiran: “biarkan saja barang yang dijual itu berkualitas jelek, karena pembelinya adalah orang lainatau orang selintas”. Apabila konsep berpikir seperti itu berkembang dikalangan para pelaku bisnis, maka akan menimbulkan nilai kepercayaan terhadap barang dagangan itu menjadi hilang. Alhasil, barang-barang yang diproduksi itu menjadi tidak laku.
Dalam situasi bergaul diperlukan saling percaya. Apabila dalam sebuah janji ada orang yang tidak menepatinya, maka secara otomatis orang Jepang akan memvonis “pembohong” atau “penghianat”. Dalam komunitas sebuah masyarakat yang menegedepanka rasa saling percaya seperti Jepang, yang dinilainya itu adalah efisiensi, pertimbangan perasaan (nilai emosional), dan akhirnaya akan melahirkan manusia-manusia yang mampu bekerja dengan baik. Dampak positifnya adalah penghasilan setiap individu akan meningkat dan tentunya langsung ataupun tidak langsung sangat berkaitan dengan perkembangan perekonomian Jepang secara menyeluruh.
Apabila ada orang yang bersikap ‘egois’ atau ‘mau menang sendiri, maka mereka itu akan kesulitan dalam hidupnya. Prinsip orang Jepang bahwa setiap individu itu adalah gigi-gigi dalam komunitas bermasyarakat sehingga tidak bisa berpikiran hanya untuk diri sendiri semata. Dampak positif lainnya yaitu akan mempermudah rencana-rencana selanjutnay dan tentunya kecendrunga suskses itu besar asalkan kuita mau baerusaha. Dengan kata lain, setiap program yang sudah direncanakan akan berjalan dengan lancar.
Selanjutnya dikemukakan pula bahwa dampak negatif akibatn melimpahnya kekayaan di Jepang, yang tentunya keberhasilan ini merupakan jerih payah dari dulu hingga saat ini, dan juga menyebabkan Jepang serba praktis itu, disisi lain ada aspek-aspek yang semakin menghilang. Antara lain komunikasi antar orang menjadi tidak kondusif, hubungan antar tetangga menjadi renggang, dll.

IV. 3. Analisis dan Pembahasan Hasil Penelitian
Negara kita menganutSistem Ekonomi Setengah (SEKS), yaitu modifikais dari sistem ekonomi konglomerasi Asli (SEKA), model ekonomi ‘terpimpin’ Jepang. Yang mngherankan pada tahun 70an mengambil porsi pasar eksport dunia, yang melejit sebagai sukses stori. Sistem ini adalah ultra-neo-keynesian, yang menganut campur tanga mendalam dari pemerintah ke ekonominya. Bukan saja dalam kebijakan makro moneter dan fiskaltetapi juga level ekonomi mikro, sektor riil, bahkan manajemen pelaku bisnis. SEKA Jepang mempunyai sisi positif, yaitu karena bangkit dari abu perang dunia 2, berdasar sekali pada Austerity Measures (sikap ‘pengiritan’) yang sangat besar. ‘Generasi 45’nya Jepang adalah generasi kere yang hidup. Ditambah tentu saja sifat-sifat masyarakat Jepang yang feudal, anarkis, nasionalitik chauvinistik, mendekati, sangat mendukung bentuk campur tangan ‘untuk kepentingan negara’ itu.
Bertahun-tahun pada saat SEKA belum ‘proven’, Jepang sangat menekankan kepentinagn domestik untuk kepentingan pendirian bangunan Ekonomi Makro yang cantik. Pemerintah memelototi habis-habisan kriteria-kriteria ekonomi makro yang penting balance of payment, yang ada pada tahun 70-80an malah out-of-favor di Barat. London kecolongan, Jepang sangat sukses. Mulai muncul ‘Asian values’, menyangkut ‘sistem ekonomi terpimpin’ SEKA.
Secara post-Soekarno, baru belajr ekonomi makro berkat bantuan IMF, mendapat angin surga dari sistem SEKA ini. Sistem yang pada dasarnya memang kongkalikong antara cukong dengan raja ini benar-benar diterima dihati beliau. Dibentuk konglomerasi pengelompokan tidak sejenis. Jika di USA 70an ada ‘conglomeration craze’ yang basisnya adalah leverage P/E (Price Earning ratio) dengan menelan bisnis-bisnis yang P/Enya rendah, agar toyal growth naik. Disini congkimeration tidak berdasar itung-itungan yang sulit, yang memang belum dipedulikan sampai detik inipun di BEJ, tapi berdasar pada persahabatan. Oom Liem adalah contoh pertama dan tersukses, tetapi jauh dari yang terakhir. Apalagi ‘keluarga batih’ soeharto meningkat, ‘channel’ melalui Ibu Tien juga terbuka. Menderulah para makelar-makelar tulen membentuk konglo yang konglomerat-konglomerat ini. Chinese Merchant (CM) era. Yang disusul oleh Bisnis Pangeran (BP) setelah anak-anak babeh akil balik. Apa yang beda dari sistem Soeharto ini, sehingga namanya lain (SEKsetengah), karena ada dua kriteria dasar yang lolos, pertama sifat moralita bangsa, Austerity Measure, tidak ada disini. Kedua tidak ada kultur-nalar dibelakang gerakan ini, Jepang bertingkah tidak camur tangan pemerintah i bisnis tetapi masih nalar, yaitu adanya arahan yang sangat jelas dan tegas tentang apa yang akan dicapai dari tindakan-tindakannya. Secara praktis ini adalah pengarahan sangat tegas dari pemerintah Jepang tentang bisnis/sektor yang harus dimasuki, bahkan suatu dewan harian (MITI) yang sangat berpengaruh.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V. 1. Kesimpulan
Sadar harus tekun mengatasi krisis, sikap juang (makato) orang Jepang makin memantapkan proses yang dimiliki daya tarik tersendiri, yaitu: disiplin, menghargai waktu, pengembangan keterampilan, partisipasi dan keterlibatan, moral dan etos kerja, komunikasi menengah keatas dan kebawah (middle up and down).

V. 2. Saran-saran
Dalam menjadi bahan pelajaran pelaku bisnis, agar tidak bermentalitas mau instan atau WWW (Wealth Without Work), maka baik CEO, manajer menengah maupun karyawan biasa, pola poikir mereka adalah orientasi proses (process oriented) dalam mencapai tujuan. Memahai proses perubahan merupakan awal menyadari bahwa setiap elit dan pelaku bisnis ditantang untuk lebih bermutu dan etis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tak ada
  • Budi: You express your feelings that you are in love so as that you know very well about the feelings of love for someone. Deep love sometimes left vigilan
  • Rey: Aduh Tifaa,, mank ge dambain siapa?? dambaiin rey yah,, He3x Btw Dalem amat uneq2 na,, ky puisi az.
  • esientea: dalem banget... dbs berkali2 knapa masig te2p dalem ya? spertinya nulisnya bner2 dari dalam hati y mb?

Kategori

%d blogger menyukai ini: