Titacyber's Blog

PDRB kab. Jombang

Posted on: Desember 23, 2008

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Salah satu sasaran pembangunan nasional adalah tercapainya tingkat pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dan berkesinambungan. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan dengan struktur ekonomi yang diharapkan, maka pembangunan perlu dilihat dari sisi perekonomian dan perkembangan suatu wilayah dengan baik dan hasil pembangunan harus terus diamati. Pembangunan dan pengamatan terhadap hasil-hasilnya akan dapat dilakukan dengan lebih baik dan terarah apabila dilandaskan pada data statistic yang baik dan cermat.
Dalam kaitan ini statistic Produk domestic Regional Bruto (PDRB) perlu disusun karena merupakan salah satu alat yang cukup handal untuk perencanaan dan evaluasi hasil pembangunan secara makro. Dengan tersedianya data PDRB dari tahun ke tahun, maka dari itu para pembuat kebijaksanaan ekonomi di Kabupaten Jombang harus mampu menentukan sasaran pembangunan yang tepat pada kurun waktu tertentu.

1.2. MAKSUD DAN TUJUAN
• Menganalisa PDRB suatu wilayah yaitu Daerah Kab. Jombang.
• Mengetahui kaitan PDRB dengan pertumbuhan ekonomi Kab. Jombang.

Permasalahan tersebut tentu saja tidak mudah dijawab. Akan tetapi dengan adanya data statistic PDRB yang kami dapat dari BPS (Badan Pusat Statistik) barangkali kita agak terbantu dalam melakukan penganalisaan dan keterkaitan masalah pertumbuhan perekonomian daerah Kab. Jombang maupun evaluasi pembangunan ekonomi, sebab paling tidak dengan data PDRB kita dapat memperoleh gambaran mengenai :
o Laju pertumbuhan perekonomian suatu daerah
o Tingkat kemakmuran suatu daerah melaui besarnya pendapatan per kapita. Dalam hal ini lebih lengkap dengan tersedianya data PDRB daerah lain sebagai pembanding.
o Kenaikan atau penurunan kemampuan daya beli masyarakat dengan melihat besarnya tingkat inflasi atau deflasi.
o Potensi suatu daerah dengan melihat struktur perekonomian yang ada.

1.3. PDRB DALAM SIKLUS KEGIATAN EKONOMI
Kegiatan ekonomi secara garis besarnya dapat dikelompokkan kedalam kegiatan memproduksi dan kegiatan mengkonsumsi barang dan jasa. Unit-unit produksi memproduksi barang dan jasa, dan dari kegiatan produksi timbul pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang telah dimiliki oleh berbagai golongan dalam masyarakat, sehingga dari pendapatan ini masyarakat akan membeli barang dan jasa baik untuk keperluan konsumsi maupun investasi.
Dengan demikian, maka nilai produk akhir dari barang dan jasa yang diproduksi (product) akan sama dengan pendapatan yang diterima oleh golongan-golongan dalam masyarakat (income) dan akan sama pula dengan jumlah pengeluaran oleh berbagai golongan dalam masyarakat (expenditure).
Karena itu maka Regional Product (Produk Regional), Regional Income (Pendapatan Regional), dan Regional Expenditure (Pengeluaran Regional), sebenarnya sama. Hanya cara melihatnya saja yang berbeda :
 Kalau ditinjau dari segi produksi, Produk Regional adalah merupakan jumlah nilai produk akhir atau nilai tambah dari barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi yang dimiliki oleh penduduk wilayah itu dalam jangka waktu tertentu.
 Atau kalau ditinjau dari segi pendapatan, Pendapatan Regional adalah merupakan jumlah pendapatan atau balas jasa yang diterima oleh factor produksi yang dimiliki oleh penduduk wilayah itu yang ikut serta dalam proses produksi dalam jangka waktu tertentu.
 Atau apabila ditinjau dari segi pengeluaran, pengeluaran Regional adalah merupakan jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangga dan lembaga swasta yang tidak mencari untung, konsumsi pemerintah, pembentukan modal tetap perubahan stok dan ekspor neto suatu daerah dalam jangka waktu tertentu.

1.4. KEGUNAAN PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO
Produk Domestik Regional Bruto yang disajikan dengan harga konstan akan bisa menggambarkan tingkat perubahan ekonomi di daerah itu, dan apabila ini dibagi dengan jumlah penduduk akan mencerminkan tingkat perkembangan produk perkapita. Jika PDRB dibagi dengan jumlah penduduk akan mencerminkan tingkat perkembangan pendapatan perkapita yang dapat digunakan sebagai indicator untuk membandingkan tingkat kemakmuran materil suatu daerah terhadap daerah lain.
Penyajian atas dasar harga konstan bersama-sama dengan harga yang berlaku antara lain dapat dipakai sebagai indicator umtuk melihat tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi. Penyajian PDRB secara sektoral dapat memperlihatkan struktur ekonomi di wilayah itu. Bila angka PDRB dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja, atau jumlah input yang digunakan, akan dapat menggambarkan tingkat produktifitas secara sektoral maupun menyeluruh.
Penyajian dalam bentuk input-output dapat menggambarkan hubungan fungsional antara sector satu dengan sector lain, dan bagaimana kenaikan output suatu sector mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung kepada sector-sektor lain.
Penyajian dalam bentuk neraca Regional akan dapat digambarkan bagaimana barang dan jasa itu diproduksi, dikonsumsi, diinvestasikan maupun diekspor, dan bagaimana sumber-sumber pembiayaan terhadap konsumsi, investasi maupun ekspor/impor. Dari sekedar uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa angka-angka yang disajikan oleh PDRB dapat menggambarkan kondisi ekonomi yang terjadi, baik mengenai struktur ekonomi di masa lalu, keadaan yang sedang berjalan maupun kemungkinan-kemungkinan dimasa yang akan datang. Dengan demikian PDRB berfungsi sebagai :

Indikator tingkat pertumbuhan ekonomi
Indikator tingkat pertumbuhan income per kapita
Indikator tingkat kemakmuran
Indikator tingkat inflasi dan deflasi
Indikator struktur perekonomian
Indikator hubungan antar sector

Oleh karena itu angka PDRB akan sangat berguna bagi para ahli yang bergerak dibidang perencanaan ekonomi, jangka pendek maupun jangka panjang, dan lain-lain kebijaksanaan ekonomi, baik pemerintah maupun swasta.

URAIAN SEKTORAL

Uraian sektoral yang disajikan mencakup ruang lingkup dan definisi dari masing-masing sektor dan subsektor , kemudian cara-cara penghitungan nilai tambah, baik atas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000, serta sumber datanya.

2.1 SEKTOR PERTANIAN
Tanaman Bahan Makanan
Subsektor ini mencakup komoditi bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedelai, sayur-sayuran, buah-buahan, ketela, kacang hijau, tanaman pangan lainnya dan hasil-hasil produk ikutannya. Termasuk dalam cakupan ini adalah hasil-hasil dari pengolahan yang dilakukan secara sederhana oleh Petani yang bersangkutan seperti beras tumbuk, gaplek dan sagu.
Data produksi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perkebunan Kabupaten Jombang, sedangkan data harga seluruhnya bersumber dari data harga yang dikumpulkan oleh BPS Kabupaten Jombang.
Nilai tambah bruto atas dasr harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi yaitu mengalikan terlebih dahulu setiap kuantum dengan masing-masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga yang berlaku pada stiap tahun. Biaya antara tersebut diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output hasil survey khusus pendapatan regional pada masing-masing tahun harga pada tahun 2000, kemudian dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga konstan 2000.

Tanaman Perkebunan
Tanaman Perkebunan Rakyat
Sub sector ini mencakup komoditi tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat seperti jambu mente, kepala, kopi, kapok, tebu, tembakau dan cengkeh. Cakupan tersebut termasuk produk ikutannya dan hasil-hasil pengolahan sederhana seperti minyak kelapa rakyat, tembakau olahan, kopi olahan dan teh olahan.
Data Produksi diperoleh dari dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jombang sedangkan data harga oleh BPS Propinsi Jawa Timur dan Dinas Perkebunan Daerah Propinsi Jawa Timur.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara pendekatan produksi. Rasio biaya antara serta rasio margin perdagangan dan biaya transport yang digunakan diperoleh dari table input-input Indonesia 2000. Sedang nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman bahan makanan.

Tanaman Perkebunan Besar
Sub sector ini mencakup kegiatan yang memproduksi komoditi perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar. Komoditi yang dicakup di antaranya karet, teh, kopi, kako, minyak sawit, inti sawit, rami, serta manila dan sebagainya.
Cara penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku maupun konstan 2000 sama seperti pada tanaman perkebunan rakyat.

Peternakan dan Hasil-hasilnya
Sub sector ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas maupun hasil ternak, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba, telur, susu segar, serta hasil pemotongan ternak. Produksi ternak diperkirakan sama dengan jumlah ternak yang dipotong, ditambah perubahan stok populasi ternak dan ekspor ternak netto. Data mengenai jumlah ternak yang dipotong, populasi ternak, produksi susu dan telur serta banyaknya ternak yang keluar masuk wilayah Kabupaten Jombang diperoleh dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jombang, sedangkan data harga ternak diperoleh dari laporan harga produsen BPS Kabupaten Jombang.
Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan harga konstn 2000 dihitung dengan cara pendekatan produksi, yaitu mengalikan terlebih dahulu kuantum produksi setiap jenis ternak dengan harganya, kemudian dikurangi biaya antara masing-masing komoditui yang diperoleh dari survei khusus Pendapatan Regional.

Kehutanan
Subsektor kehutanan mencakup penebangan kayu, pengambilan hasil hutan lainnya dan perburuan. Kegiatan penebangan kayu menghasilkan kayu gelondongan, kayu baker, arang dan bamboo. Sedangkan pengambilan hasil hutan lainnya misalnya, rotan, dammar, kulit kayu, kopal, nipah, nibung, akar-akaran dan sebagainya. Hasil perburuan binatang liar seperti babi rusa, penyu, buaya, ular, madu dan lain-lain termasuk juga subsektor ini.
Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara rasio nilai terhdap outputnya.

Perikanan
Subsektor ini mencakup semua hasil dari kegiatan perikanan laut, perairan umum, tambak, kolam, sawah dan keramba, serta pengolahan sederhana (pengeringan dan penggaraman ikan). Data mengenai produksi, dan nilai produksi diperoleh dari laporan dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Jombang. Sedang penghitungan nilai tambah bruto dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output. Diman Rasio nilai tambah diperoleh dari survey khusus.

2.2 SEKTOR PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN
Sektor ini mencakup minyak tanah mentah dan gas bumi, yodium, bijih mangan, belerang, serta segala jenis hasil penggalian.
Output sector pertambangan dan penggalian merupakan perkalian antara produksi dengan harga masing-masing, yang apabila dikurangi dengan biaya antara diperoleh nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku, sedangkan nilai tambah bruto penggalian atas dasar harga konstan adalah penggalian (menggunakan cara revaluasi) dikurangi biaya antara atas dasar harga konstan 2000.

2.3 SEKTOR INDUSTRI PENGOLAHAN
Berbeda dengan publikasi sebelumnya, mulai PDRB 1993 sektor Industri pengolahan bukan lagi dibagi menjadi subsektor industri besar, sedang dan kecil, tetapi menurut ketentuan klasifikasi lapangan usaha Indonesia(KLUI) dalam dua digit. Dengan demikian akan kita dapati 9 subsektor sebagai berikut :
1. Makanan, minuman dan tembakau
2. Tekstil, barang kulit dan alas kaki
3. Barang kayu dan hasil hutan lainya
4. Kertas dan barang cetakan
5. Pupuk, kimia dan barang dari karet
6. Semen dan barang galian dari logam
7. Logam dasar, besi dan baja
8. Alat angkutan, mesin dan peralatannya
9. Barang lainnya.
Ruang lingkup dan metode penghitungan nilai tambah bruto sector ini bersumber dari survey tahunan BPS Kabupaen jombang serta didukung data produksi dari Disperindagkop Kabupaten Jombang.
Output sector industri diperoleh dengan cara pendekatan produksi yaitu dengan mengalikan rata-rata output per tenaga kerja dengan jumlah tenaga kerja yang bekerja di sector ini. Sedangkan nilai tambah diperoleh dengan cara mengalikan persentase nilai tambah terhadap output berdasarkan survey khusus pendapatan regional. Selanjutnya perhitungan atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara revaluasi.

2.4 SEKTOR GAS , LISTRIK DAN AIR BERSIH
Data Produksi yang disajikan dalam publikasi ini adalah data resmi dari PLNM (persero) dan Perusahaan Daerah Air Minum. Output masing-masing sub sector mencakup semua produksi yang dihasilkan dari berbagai kegiatan sesuai dengan ruang lingkup dan definisinya.
Listrik
Sub sector ini mencakup semua kegiatan kelistrikan, baik yang diusahakan oleh PT PLN (persero) maupun non PLN. Data produksi, harga dan biaya antara subsektor ini diperoleh dari PT PLN (persero). Output atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian produksi dengan harga yang berlaku pada masing-masing tahun, sedangkan output atas dasar harga konstan 2000, diperoleh dengan cara revaluasi.
Gas
Subsektor ini jelas tidak ada dan tidak pernah ada di kabupaten jombang.
Air Minum
Subsektor ini mencakup air minum yang diusahakan oleh Perusahaan Air minum saja. Data produksi, harga dan biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan air minum diperoleh dari laporan Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Jombang yang dikumpulkan oleh BPS Kabupaten Jombang. Output atas dasar harga berlaku diperoleh dari perkalian produksi dan harga yang berlaku pada masing-masing tahun. Sedang penghitungan nilaitambah atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara yang sama seperti pada subsektor listrik.

2.5 SEKTOR BANGUNAN
Sektor bangunan mencakup semua kegiatan pembangunan fisik konstruksi, baik berupa gedung, jalan, jembata, terminal, pelabuhan, dam, irigasi, eksploitasi minyak bumi maupun jaringan listrik, gas, air, telepon dan sebagainya. Nilai tambah bruto dihitung dengan menggunakan pendekatan produksi. Output diperoleh dari penjumlahan nilai pembangunan prasaran fisik yang dibiayai dari APBN, pembangunan-pembangunan yang dilakukan pengembang, perumnas serta yang dilakukan oleh swadaya masyarakat murni, sedangkan persentase nilai tambah diperoleh dari survey khusus. Output atas dasar harga konstan diperoleh dengan cara deflasi, sebagai deflatornya adalah indeks harga perdagangan besar (IHPB) bahan bangunan dan konstruksi.

2.6 SEKTOR PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN
Perdagangan besar dan eceran
Perhitungan nilai tambah sub sector perdagangan dilakukan dengan pendekatan arus barang (commodity flow) yaitu dengan menghitung besarnya nilai komoditi pertanian, pertambangan dan penggalian, industri serta komoditi yang diperdagangkan. Dari nilai komoditi yang diperdagangkan, diturunkan nilai margin yang merupakan output perdagangan yang selanjutnya dipakai untuk menghitung nilai tambahnya. Rasio besarnya barang-barang yang diperdagangkan, margin perdagangan dan persentase nilai tambah didasarkan pada data hasil penyusunan table input-output Indonesia 2000 serta survey khusus. Nilai produksi bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan mengalikan rasio-rasio diatas dengan output atas dasar harga konstan 2000 dari sector-sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri serta impor. Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara rasio nilai tambah terhadap outputnya.

Hotel
Sub sector ini mencakup semua hotel, baik berbintang (di kabupaten jombang tidak ada) maupun tidak berbintang serta berbagai jenis penginapan lainnya. Output dihitung dengan cara mengalikan jumlah malam tamu dan tarifnya diperoleh dari BPS Kabupaten jombang, sedangkan persentase nilai tambah diperoleh dari survey khusus pendapatan regional yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Jombang.
Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung berdasarkan perkalian antara persentase nilai tambah terhadap outputnya.

Restoran
Karena belum tersedia data restoran secara lengkap, maka output dari subsektor ini diperoleh dari perkalian antara jumlah tenaga kerja yang bekerja di restoran dari hasil sensus penduduk tahun 2000 dan SUPAS 2005 beserta pertumbuhannya dengan output pertenaga kerja dari hasil survey khusus pendaptan regional. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan indeks harga konsumen makanan jadi dan minuman sebagai deflator.

2.7 SEKTOR ANGKUTAN DAN KOMUNIKASI
Sektor ini mencakup kegiatan pengankutan umum untuk barang dan penumpang, baik melaui darat, laut dan udara. Termasuk jasa penunjang angkutan dan komunikasi. Dan untuk Kabupaten Jombang sudah diketahui bahwa laut dan udara tidak ada, sehingga tidak perlu ditampilkan di bawah ini.

Angkutan Kereta Api
Nilai tambah Bruto atas dasar harga berlaku dihitung berdasarkan data yang diperoleh dari laporan Tahunan PT KAI. Sedangkan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi dengan menggunakan indeks produksi gabungan tertimbang penumpang dan ton-km barang yang diangkut.

Angkutan Jalan Raya
Sub sector ini meliputi kegiatan pengangkutan barang dan penumpang yang dilakukan oleh perusahaan angkutan umum, baik bermotor ataupun tidak bermotor seperti bis, truk,taksi, becak, dokar dan sebagainya.
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dengan menggunakan metode pendekatan produksi yang didasarkan pada data jumlah armada angkutan umum barang dan penumpang wajib uji dan hasil survei khusus pendapatan regional angkutan yang dilakukan setiap tahun, sedangkan untuk data jenis kendaraan tidak bermotor diperoleh dari dinas Pendapatan daerah dan berbagai survei. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi.

Jasa Penunjang Angkutan
Meliputi kegiatan pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang dan berkaitan dengan kegiatan pengangkutan, keagenan barang dan penumpang, ekspedisi, bongkar muat, penyimpanan dan pergudangan serta jasa penunjang lainnya.

Terminal dan Perpakiran
Mencakup kegiatan pemberian pelayanan dan penganturan lalu lintas kendaraan / armada yang membongkar atau mengisi muatan, baik barang maupun penumpang, seperti kegiatan terminal, parker dan pelabuhan laut. Dikabupaten Jombang hanya kegiatan perparkiran saja yang ada, karena terminal masuk pada kegiatan pemerintahan umum. Selanjutnya untuk kekiatan perparkiran tersebut digunakan presentase dari angkutan darat sebagai estimasi outputnya, sedang untuk struktur inputnya diperoleh dari survey khusus.

Bongkar Muat
Kegiatan bongkar muat mencakup pemberian pelayanan bongkar muat angkutan barang melalui laut dan darat.

Keagenan
Kegiatan keagenan mencakup pelayanan keagenan barang dan penumpang yang diberikan kepada usaha angkutan, baik angkutan darat maupun laut. Output dihitung dengan menggunakan rasio yang diperoleh dari Table Input Output Indonesia 2000 terhadap nilai output seluruh jenis angkutan. Struktur biaya diperoleh dari survei khusus. Perhitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara deflasi memakai indeks harga konsumen komponen biaya traspor.

Pergudangan
Kegiatan pergudangan mencakup pemberian jasa penyimpanan barang, dalam suatu bangunan ataupun dilapangan terbuka. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan menggunakan rasio tertentu terhadap angkutan laut.

Komunikasi
Kegiatan yang mencakup adalah jasa pos, giro dan telekomunikasi dan jasa penunjang komunikasi.

Pos dan Giro
Meliputi kegiatan pemberian jasa pos dan giro seperti pengiriman surat, wesel, paket, jasa giro, jasa tabungan dan sebagainya. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku didasarkan pada data produksi dan struktur biaya yang diperoleh dari Laporan Keuangan PT Pos Indonesia (persero) Cabang Jombang.
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dilakukan dengan cara ekstrapolasi, menggunakan indeks gabungan dari jumlah surat yang dikirim, jumlah uang yang digirokan.

Telekomunikasi
Mencakup kegiatan pemberian jasa dalam hal pemakaian hubungan telepon, telegrap, dan teleks. Nilai tambah bruto atas dasr harga berlaku dihitung berdasarkan data yang bersumber dari laporan Tahunan PT Telkom (persero)
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan menggunakan indeks produksi gabungan tertimbang yang meliputi jumlah menit local/interlokal dan banyaknya pemegang telepon.

Jasa Penunjang Komunikasi
Kegiatan Sub sector ini mencakup pemberian jasa dan penyediaan fasilitas yang sifatnya menunjang komunikasi seperti wartel, warpostel, radio pager dan telepon seluler.

2.8 SEKTOR KEUANGAN, PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN
Sektor ini meliputi kegiatan perbankan, lembaga keuangan bukan bank, sewa bangunan dan jasa perusahaan.

Bank
Angka nilai tambah bruto sub sector Bank atas dasar harga berlaku diperoleh dari Bank Indonesia. Dalam PDRB seri terbaru ini, nilai tambah bruto yang ditimbulkan dari kegiatan Bank Indonesia tidak mencakup pembayaran bunga sertifikat bank Indonesia (SBI) dan pinjaman dari luar negeri, karena hal itu merupakan kebijaksanaan moneter yang bukan merupakan kegiatan komersil perbankan, sedangkan PDRB seri lama masih mencakup kedua jenis bunga tersebut.
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara ekstrapolasi dengan indeks kredit riil, jumlah kredit yang dilepas oleh bank diperoleh dari Bank Indonesia Cabang Jawa Timur, sedangkan sebagai deflatornya Indeks HArga Konsumen bagian umum.

Lembaga Keuangan Bukan Bank
Kegiatan lembaga keuangan bukan bank meliputi kegiatan Asuransi, Koperasi, yayasan dana pension dan pegadaian.
Penghitungan output dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperoleh dengan cara pendekatan produksi. Output diperoleh dari perkalian indicator produksi dengan indicator harga, sedangkan nilai tambah bruto diperoleh dengan cara mengurangkan nilai biaya antara dari nilaioutput. Nilai tambah bruto atasdasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi, daripada kegiatan yayasan dana pension dengan cara deflasi.

Sewa bangunan
Sub sector ini mencakup semua kegiatan jasa atas penggunaan rumah/bangunan sebagai tempat tinggal rumah tangga dan buka sebagai tempat tinggal, tanpa memperhatikan apakah bangunan tersebut milik sendiri atau disewa. Perhitungan nilai tambah bruto tahun 2000 didasarkan pada data pengeluaran konsumsi rumah tangga, khususnya pengeluaran untuk sewa rumah. Perhitungan untuk bangunan bukan tempat tinggal diperoleh dari hasil survey khusus.
Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperkirakan dengan cara ekstrapolasi menggunakan jumlah bangunan tempat tinggal dan bukan sebagai tempat tinggal sebagai ekstrapolatornya. Sedang nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku diperkirakan dengan cara menginflate nilai tambah bangunan dan tempat tinggal dengan indeks harga kualitas bangunan.

Jasa Perusahaan
Sub sector ini meliputi jasa pengacara, jasa akuntan, biro arsitektur, jasa pengolahan data, jasa periklanan dan sebagainya.
Perhitungan output dan nilai tambah bruto didasarkan kepada data jumlah tenaga kerja yang bersumber dari hasil sensus Ekonomi 2006 dan sensus penduduk 2000, serta rata-rata output per tenaga kerja dan prosentase nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dengan cara revaluasi.

2.9 SEKTOR JASA-JASA

Jasa Pemerintahan Umum
Nilai tambah bruto sub sector jasa pemerintahan umum terdiri dari upah dan gaji rutin pegawai pemerintah pusat dan daerah. Upah dan gaji yang dihitung mencakup upah dan gaji di belanja rutin dan sebagaian dari belanja pembangunan. Perkiraan penyusutan adalah sebesar 5 persen dari total upah dan gaji yang dihitung. Data yang dipakai adalah realisasi pengeluaran pemerintah pusat yang diperoleh BPS, sedang data untuk daerah tingkat I dari BPS Propinsi Jawa Timur, serta untuk Daerah Tingkat II dan Pemerintah Desa diperoleh dari BPS Kabupaten Jombang sendiri.
Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi menggunakan indeks jumlah pegawai negeri

Jasa Sosial dan Kemasyarakatan
Sub sector ini mencakup jasa pendidikan, jasa kesehatan serta jasa kemasyarakatan lainnya seperti jasa penelitian, jasa palang merah, panti asuhan, panti wreda, yayasan pemeliharaan anak cacat, rumah ibadat dan sebagainya, terbatas yang dikelola oleh swasta saja. Kegiatan-kegiatan sejenis yang dikelola oleh pemerintah termasuk dalam sector pemerintahan.

Jasa Pendidikan
Data yang digunakan untuk memperkirakan nilai tambah adalah jumlah murid sekolah menurut jenjang pendidikan, yang diperoleh dari kantor Departemen pendidikan dan kebudayaan kabupaten jombang. Data output per murid dan persentase nilai tambah diperoleh dari survey khusus serta IHK komponen aneka barang dan jasa dari kantor statistic jawa timur. Penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000, dilakukan dengan cara revaluasi.

Jasa Kesehatan
Mencakup jasa rumah sakit, dokter praktek dan jasa kesehatan lainnya yang dikelola oleh swasta. Perkiraan output untuk masing-masing kegiatan didasarkan pada hasil perkalian antara rata-rata output per tempat tidur rumah sakit dengan jumlah dokter praktek, rata-rata output per dokter dengan jumlah dokter praktek, rata-rata output per bidan dengan jumlah bidan praktek dan rata-rata output per dukun bayi dengan jumlah dukun bayi praktek.
Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku didasarkan pada persentase nilai tambah terhadap output. Data yang digunakan bersumber dari Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Jombang dan Kanwil Kesehatan Propinsi Jawa Timur serta dari survey khusus pendapatan regional. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi masing-masing kegiatan.

Jasa Sosial dan Kemasyarakatan lainnya
Dari hasil survey khusus terhadap panti asuhan dan panti wredha, diperoleh rata-rata output per anak yang diasuh dan rata-rata output per orang tua yang dilayani, serta struktur inputnya. Kemudian dengan mengalikannya terhadap jumlah anak yang diasuh dan orang tua yang dilayani yang bersumber pada dinas Sosial, diperoleh perkiraan output dan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku. Perkiraan nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara revaluasi.
Perhitungan untuk kegiatan kursus menggunakan data hasil susenas mengenai pengeluaran perkapita untuk biaya kursus. Dengan mengalikan jumlah penduduk pertengahan tahun dengan indicator tersebut akan diperoleh nilai output yang selanjutnya dengan rasio nilai tambah bruto dapat diperoleh nilai tambah bruto. Perhitungan nilai tambah atas dasar harga konstan adalah dengan cara deflasi dan sebagai deflatornya adalah Indeks Harga Konsumen kelompok aneka barang dan jasa.

Jasa Hiburan dan Kebudayaan
Sub sector ini mencakup jasa bioskop, panggung kesenian, studio radi swasta, taman hiburan, klub malam, diskotik, produksi/distribusi film dan sebagainya.
Data pajak tempat hiburan dan keramaian umum, struktur biaya, serta persentase pemungutan pajak terhadap tempat-tempat hiburan hasil survey khusus dipakai untuk memperkirakan output dan nilai tambah jasa hiburan dan kebudayaan. Untuk penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dengan cara deflasi Indeks Harga Konsumen komponen aneka barang dan jasa.
Untuk kegiatan studio swasta perkiraan nilai tambahnya didasarkan pada rata-rata output per radio swasta dengan jumlah radio swasta yang diperoleh dari Kanwil Penerangan Propinsi Jawa Timur serta dari survey khusus. Untuk penghitungan atas dasar harga konstan 2000 dengan cara revaluasi.

Jasa Perorangan dan Rumahtangga
Sub sector ini mencakup jasa perbengkelan, reparasi, jasa perorangan dan pembantu rumahtangga. Survei yang dilakukan oleh BPS Kabupaten Jombang memberikan data tentang rata-rata output per tenaga kerja dan struktur inpunya.

Nilai output diperkirakan dengan cara mengalikan jumlah tenaga kerja yang didasarkan pada hasil sensus Penduduk 2000 dengan rata-rata output per tenaga kerja. Sedangkan untuk memperoleh nilai tambah bruto adalah dengan mengalikan persentase nilai tambah bruto, yang datanya diperoleh nilai tambah bruto adalah dengan mengalikan persentase nilai tambah bruto, yang datanya diperoleh dari survey khusus, dengan perkiraan nilai outputnya. Nilai tambah bruto atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara ekstrapolasi, menggunakan indicator tingkat pertumbuhan tenaga kerja.

PDRB 2005

3.1 PENDAHULUAN
PDRB sudah cukup dikenal luas oleh masyarakat dalam hal kemampuannya untuk menggambarkan pendapatannya per kapita, struktur ekonomi, laju pertumbuhan ekonomi dan lebih luas lagi kinerja pembangunan suatu wilayah. Anggapan umum ini tidak sepenuhnya salah, tetapi masih perlu diberi catatan, terutama kalau kita berbicara tentang pembangunan, dan bukan hanya sekedar pertumbuhan belaka.
Tetapi apapun pengertian kita tentang pembangunan, mesti dipahami sebagai upaya sadar yang berkaitan erat dengan perbaikan kualitas hidup rakyat, serta memperluas kemampuan mereka untuk membentuk masa depan mereka sendiri. Memang, pembangunan menuntut pendapatan perkapita yang lebih tinggi, namun sebenarnya cakupan pembangunan jauh lebih luas lagi. Misalnya, pembangunan mencakup pendidikan dan kesempatan kerja yang lebih luas, kesehatan dan nutrisi yang lebih baik, lingkungan alam yang lebih bersih dan lestari, system hukum dan pengadilan yang lebih berkeadilan, kehidupan politik dan sipil yang lebih luas, kehidupan cultural yang lebih kaya dan seterusnya. Dengan meningkatkan pendaptan per kapita, sebagian dari aspek itu akan membaik (dengan tingkatan yang beragam), namun sebagian yang lain bisa sebaliknya.
Para praktisi pembangunan kerap menggunakan pertumbuhan PDRB sebagai sebab representasi pembangunan daerah, sebagian karena kemajuan social dikaitkan dengan pengandalkan PDRB dan sebagian karena kemajuan social dikaitkan dengan pertumbuhan PDRB dan sebagian lagi karena manfaatnya. Meskipun demikian, mengandalkan PDRB saja sebagai satu-satunya ukuran pembangunan daerah sangatlah terbatas jangkauannya. Oleh karena itu untuk mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dalam mengkaji pembangunan suatu daerah diperlukan indicator kesejahteraan yang lebih multidimensional. Tetapi sementara di tengah ketiadaan indicator-indikator seperti itu atau yang dapat melengkapinya, paling tidak kita dapat memperkirakan gejala permukaan pembangunan ekonomi suatu daerah kecil semisal Kabupaten Jombang ini.
Lita mesti hati-hati dalam menggunakan data statistic agar kita tidak salah faham dengan data yang dimaksudkan. Oleh karena itu sebelumnya kita mesti memeriksa konsep/definisi, arah serta keterbatasan data statistik yang terpampang di depan kita.
PDRB menurut lapangan usaha atau menurut sector produksi merupakan jumlah dari nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh unit kegiatan ekonomi yang beroperasi di suatu wilayah dalm periode waktu tertentu. Dengan demikian data PDRB dapat pula menggambarkan kemampuan suatu wilayah atau daerah mengelola sumber daya alam serta factor produksi lainnya. Disini PDRB disajikan denagn dua cara. Pertama, PDRB atas dasar harga berlaku, dimaksudkan untuk menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun bersangkutan, sedang yang kedua, yaitu PDRB atas dasar harga konstan 2000 yang berguna untuk melihat trend atau membandingkan besaran-besaran PDRB antar tahun.

Sekilas kita sudah dapat melihat bahwa perekonomian kita lima tahun terakhir terus membaik meskipun inflasi meningkat pada tahun 2005, karena PDRB atas dasar harga konstan masih mampu meningkat dari Rp 4,5 Trilyun menjadi Rp 4,7 Trilyun.

3.2 PERTUMBUHAN EKONOMI KITA

Melalui Tabel 2 kita melihat secara umum bahwa antara 2000-2005 tampak meningkat dari tahun ke tahun.

Terlihat bahwa setahun terakhir sector andalan kita, yaitu sector pertanian masih mampu berjalan lebih cepat meskipun kita tahu bahwa keluhan klasik petani kita soal mahalnya pupuk dan obat-obatan serta anjloknya harga hasil produksi masih terdengar. Sedang sector perdagangan memperlambat langkahnya yang tadinya sudah merupakan langkah lebar, yaitu dari 8,85 % menjadi 7,50%. Hal ini dikarenakan karena sector ini paling peka terhadap pergerakan inflasi umum.
Sektor pertambangan dan penggalian segera bergairah dengan meningkatnya permintaan pasar internasional akan yodium. Sebaliknya sector keuangan kecepatannya melambat dari 9,05% menjadi 4,98% karena pada tahun 2005 masyarakat kurang berani mengambil kredit. Selanjutnya adalah jasa-jasa swasta, percepatan tumbuhannya cukup mengesankan yaitu dari 4,32% menjadi 7,59%. Sebab sector ini termaasuk salah satu sector fleksibel dalam menampung tenaga kerja atau pengangguran, karena tidak membutuhkan modal yang besar untuk memasuki pasar.

3.3 STRUKTUR EKONOMI KITA
Struktur ekonomi Kabupaten Jombang bertumpu pada empat sector utama yang secara tradisional menyangga ekonomi kita sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Namun kalau kita lihat lebih jauh peranan keempat sector tersebut secara alamiah mengikuti trend bahwa sector pertanian akan terus mengecil perananya sedang kedua sector yang lain, yaitu sector industri pengolahan dan sector perdagangan, hotel dan restoran akan selalu merupakan kebalikannya. Selebihnya, sector jasa-jasa berubah – ubah tanpa kaitan langsung dengan trend tersebut.
Walaupun demikian sebagai sikap pemulihan banyak orang menaruh harapan besar pada agrobisnis dan agroindustri sebagai pengembangan sector pertanian. Sekarang orang ramai-ramai bicara tentang memperkuat landasan ekonomi kita, yaitu ekonomi kerakyatan alias pertanian, perdagangan informal dan koperasi yang merupakan tumpuan nafkah sebagian besar penduduk.

Menurunnya andil sector pertanian pada table 4 bukan berarti sector ini tidak tumbuh, melainkan karena kecepatan tumbuhnya kalah cepat dengan sector lain, misalnnya sector perdagangan dan industri. Lihat table u.5 Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran memang sector yang paling cepat berubah, terutama untuk yang kecil dan informal. Mudah sekali orang masuk pasar sector ini, sehingga banyak pakar yang memuji perdagangan kecil informal merupakan bumper ketika terjadi krisis ekonomi yang baru lalu karena keluwesannya menyerap pengangguran dan tenaga kerja tak terdidik. Andil penting sector ini dalam perekonomian Kabupaten Jombang tak dapat diingkari siapapun.

3.4 KONTRIBUSI WILAYAH KECAMATAN DALAM PEMBENTUKAN PDRB
KABUPATEN JOMBANG

Tentu saja setiap kecamatan memiliki sumbangan yang berbeda-beda dalam pembentukan PDRB Kabupaten Jombang walaupun aroma agraris cukup kuat pada hamper semua kecamatan. Berbicara mengenai sumbangan berarti berbicara mengenai struktur. Dan suatu struktur mestilah sesuatu yang cukup rigrid atau tidak mudah berubah, bahkan oleh hiperinflasi setempat sekalipun, sehingga lebih tepat kiranya kalau kita membahasnya dengan harga konstan.

Yang pertama kecamatan Jombang dengan sumbangan sebesar 21,55% pada tahun 2004, dan kemudian naik menjadi 21,78%. Sebagai ibu kota Kabupaten Jombang, Kecamatan Jombang tentu merupakan pusat akumulasi sumber daya non pertanian, terutama perdagangan, industri, pemerintahan dan jasa swasta. Dan di dalam PDRB Kecamatan Jombang sendiri peranan sektor pertaniannya hanya 5,44%. Kecamatan Jombang adalah “the real urban” dalam arti apapun.

Kemudian menyusul Kecamatan Mojoagung, dengan sumbangan 8,49% pada tahun ini. Mirip dengan Kecamatan Jombang kecamatan ini juga dilalui jalur lalu lintas antar kabupaten, sehinnga lebih memudahkan kalau perdangan dan industri pengolahan menjadi ciri khas utamanya. Didalam kecamatan ini sendiri sector pertaniaan hanya mempunyai peranan 15,19% saja.
Yang ketiga adalah Kecamatan Diwek. Peranannya menurun tipis dari 6,87% pada tahun 2004 menjadi 6,85% pada tahun 2005. kecamatan ini juga disangga oleh pertanian dan perdagangan seperti halnya Kecamatan Peterongan, namun dengan pertanian sebagai primadona dengan 32,54%. Diantara ketiga kecamatan tersebut Diweklah yang paling agraris.
Ekonomi Kecamatan Peterongan semakin bergairah. Sumbangannya bagi PDRB Kabupaten Jombang telah meningkat dari 5,19% pada tahun 2004 menjadi 5,21% pada tahun 2005. perdagangan dan industri adalah penyangga utama perekonomian kecamatan ini, kemudian disusul oleh pertanian.
Berikutnya Kecamatan Ngoro sumbangannya sebesar 5,19% pada tahun 2004 dan 5,21% pada tahun 2005. Kecamatan ini punya kemampuan besar dalam industri pengolahan dan perdagangan, walaupun sector pertaniannya masih dominant.
Yang terendah sumbangan bagi PDRB Kabupaten Jombang adalah Kecamatan Ngusikan , yaitu 1,93% pada tahun 2003 dan 1,92% pada tahun 2004. Hampir sama dengan pendahulunya, yaitu Kecamatan Kudu keutamaannya pada pertanian dengan pangsa sebesar 49,27% dan perdagangan sebesar24,37%.

3.5 STRUKTUR EKONOMI 21 KECAMATAN

Sebagai tercermin pada tingkat Kabupaten tercermin pula pada tingkat Kecamatan, bahwa ada 4 sektor dominan yaitu sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor perdagangan, hotel, dan restoran serta sektor jasa-jasa (swasta). Untuk itu kami sajikan struktur ini pada Tabel U.8. sebagai pembanding
Dari sisi pandang kedalam ada 4 kecamatan yang sektor pertaniannya menjadi titik sentrifugal perekonomian kecamatan itu, yaitu Kecamatan Wonosalam (56,82%) kemudian Kecamatan Megaluh (54,76%), Bandar Kedung Mulyo (53,13%) , Sumobito (52,73%), Plandaan (52,64%), dan Perak (52,63%). dan kebalikannya ada 3 Kecamatan yang paling kurang agraris yaitu Kecamatan Jombang (5,44%), Mojoagung (15,19%), Ploso (21,95%) serta Peterongan (24,05%).

Kalau kita bicara soal sektor industri di seluruh Kabupaten Jombang sebenarnya kita sedang membicarakan tentang industri kecil dan industri rumah tangga (home industry). itulah yang dominan. Industri menengah dan besar yang biasanya berbadan hukum, tidak terkonsentrasi di suatu kecamatan tertentu. dalam konteks itulah kita mencatat ada 6 kecamatan yang kehidupan sektor industrinya sangat mewarnai kecamatan tersebut, yaitu berturut-turut Ploso (10,23%), Gudo (10,57%), Jombang (12,32%), Mojoagung (16,37%), Ngoro (17,84%), dan Diwek (23,31%). Namun kita harus ingat sektor industri yang baru kita sebut keunggulannya di 6 kecamatan tadi umumnya berupa industri makanan, minuman, dan tembakau alias industri yang mengolah hasil-hasil sektor pertanian. Itulah kekuatan kita.
Ada 4 kecamatan yang sektor perdagangannya menonjol (tentu saja pada pandangan inward looking), yaitu Kecamatan Diwek (29,69%), Jombang (34,86%), Mojoagung (43,28%), Peterongan (49,19%). inilah kecamatan-kecamatan yang diuntungkan oleh jalur lalu lintas, yang merupakan akses dan aset penting bagi perdagangan.
Sektor jasa-jasa (swasta) merupakan raksasa kecil dalam struktur perekonomian kita. rentang kegiatannya amat sangat luas, mulai dari penjahit sampai dokter dan konsultan berdasi. tetapi umumnya yang terhormat di kecamatan-kecamatan kita tentunya adalah jasa pendidikan dan kesehatan swasta. Ada 4 Kecamatan yang nilai tambahnya berpengaruh kuat. Yaitu Kecamatan Ploso (5,45%), Plandaan (5,30%), Megaluh (5,09%), Bandar Kedung Mulyo (5,07%). Tampak bahwa angka-angka sektor jasa (swasta) perbedaanya tidak signifikan antar kecamatan kita.

3.6 PERTUMBUHAN EKONOMI ANTAR KECAMATAN
Telah disebut d imuka pertumbuhan ekonomi Kabupaten Jombang secara keseluruhan meningkat dari 5,10% pada tahun 2004 menjadi 5,15% pada tahun 2005. Tetapi kalau kita masuk lebih dalam ada 3 kecamatan yang menjadi triumvirat pusat pertumbuhan pada tahun 2005, yaitu Kecamatan Mojoagung (6,42%), Jombang (6,23%) dan Peterongan (5,90%). Oleh karena itu tidaklah terlalu salah kalau kita sebut 3 kecamatan tersebut sebagai “ factory outlet”nya Kabupaten Jombang. Lihat tabel U.9

Sedang pada tahun 2005 ini ada 2 kecamatan yang pertumbuhannya paling rendah yaitu Megaluh (3,61%) dan Keamben (2,49%). Tetapi secara umum pertumbuhan ekonomi antar kecamatan memiliki trend yang sama dengan pertumbuhan Kabupaten Jombang secara keseluruhan.
3.7 PDRB PER KAPITA ANTAR KECAMATAN
Pada tahun ini (2005) ada 5 kecamatan yang PDRB per kapitanya diatas rata-rata Kabupaten Jombang, yaitu kecamatan Jombang (Rp 14.333.491), Mojoagung (Rp 9.095.962), Peterongan (Rp 7.951.072), Wonosalam (Rp 7.830.607) dan Ploso (Rp 7.023.222). Sedang kebalikannya yaitu Kecamatan Mojowarno (Rp 3.647.196). Untuk lebih lengkapnya lihat Tabel U.10

3.8 KESIMPULAN
Besaran PDRB kita atas dasar harga berlaku saat ini telah mencapai Rp 7,4 Trilyun. Sedang atas dasar harga konstan 2000 terhitung Rp 4,8 Trilyun. artinya,dibanding tahun sebelumnya telah tumbuh 5,15%, dengan inflasi (harga produsen) sebesar 15,40%. angka-angka itu paling tidak merupakan tanda akan perlunya mempertahankan momentum yang ada untuk mencapai sustainable development atau pembangunan yang berkelanjutan. Ini memang tantangan yang serius, dan kita butuh semacam terobosan berupa program yang strategis dan efektif untuk memacu gairah ekonomi yang mulai bangkit ini. Artinya mulai sekarang kita mesti punya wawasan baru yang segar untuk membangun Kabupaten Jombang serta dapat menyelesaikan masalah-masalah makro ekonomi yang mendesak, seperti meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi pengangguran dan mengendalikan laju inflasi.

LAMPIRAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


  • Tak ada
  • Budi: You express your feelings that you are in love so as that you know very well about the feelings of love for someone. Deep love sometimes left vigilan
  • Rey: Aduh Tifaa,, mank ge dambain siapa?? dambaiin rey yah,, He3x Btw Dalem amat uneq2 na,, ky puisi az.
  • esientea: dalem banget... dbs berkali2 knapa masig te2p dalem ya? spertinya nulisnya bner2 dari dalam hati y mb?

Kategori

%d blogger menyukai ini: